KOMPLIKASI NEUROKOGNITIF INFEKSI HIV

oleh I Putu Eka Widyadharma

Perkembangan penyakit dengan infeksi di seluruh dunia oleh human immunodeficiency virus-1 (HIV-1) dan acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) dalam tahap yang membahayakan, dengan perkiraan jumlah yang telah tumbuh lebih dari 35 juta infeksi yang ada pada tahun 2001 menjadi 38 juta pada tahun 2003, dan lebih dari 20 juta kematian sejak 1981. Data nasional hingga 30 Juni 2005, menunjukkan 7.098 kasus HIV/AIDS di Indonesia, atau meningkat signifikan dari data sebelumnya yaitu 6.789 kasus per 31 Maret 2005.

Komplikasi primer akibat langsung infeksi HIV otak meliputi Minor Cognitive Motor Disorder (MCMD), dan HIV associated dementia (HAD), komplikasi neurobiologi seperti HIV-1 meningitis, myelopati vacuolar dan neuropati. Komplikasi sekunder berkaitan dengan immunodeficiency, atau efek merugikan akibat hubungan penyakit HIV atau akibat pengobatan. Infeksi seperti toxoplasmosis, ensefalitis cytomegalovirus (CMV) , dan leukoencepalopati multifokal progresif, seperti neoplasia dan delirium sebagai contoh komplikasi yang terjadi. Diperkirakan komplikasi neurokognitif (NK) terjadi pada 30%-50% dari seluruh individu yang terinfeksi HIV-1. Komplikasi yang timbul dari ringan, berupa defisit subsyndromic dengan pengaruh ringan pada daily life sampai berat dan demensia. Pada awalnya, mayoritas gejala neurologis berat terjadi pada tahap sistemik penyakit HIV-1 dan prevalensi HAD diperkirakan 20-30% pada individu dengan hitung sel T CD4 yang rendah. Sebagai tambahan, anemia yang berhubungan dengan infeksi HIV-1 muncul dengan sendirinya sebagai prediktor awal resiko tinggi gangguan neuropsikologis (NP).HIV masuk ke dalam sistem saraf pusat pada awal perjalanan infeksi. Tetapi, prevalensi gangguan NK ringan, masih menjadi titik kontroversi. Penelitian pertama yang melaporkan gangguan neuropsikologis pada subjek asimtomatis dipublikasikan pada tahun 1987. Meski beberapa penelitian selanjutnya menemukan bahwa individu asimtomatis tidak memiliki resiko yang lebih tinggi untuk gangguan NP, terdapat bukti yang berkembang bahwa sebagian dari individu asimtomatis memang memiliki bukti setidaknya gangguan NK ringan.
Sebuah artikel review dari kelompok (White et al., 1995) menemukan bahwa dari 57 penelitian yang memeriksa fungsi NP pada tahap asimtomatis, 32% melaporkan peningkatan gangguan NP pada subjek HIV+, 21% memiliki hasil yang samar, dan 42% tidak menemukan perbedaan kelompok yang signifikan antara kelompok subjek HIV- dan HIV+. Kelengkapan pemeriksaan NP memiliki hubungan yang kuat dengan kecederungan menemukan perbedaan antar kelompok, dengan penelitian dengan rangkaian pemeriksaan yang besar (lebih dari 14 test) secara signifikan memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk menemukan gangguan di dalam kelompok HIV+ asimtomatis.

Data dari HIV Neurobehavioral Research Centre (HNRC) menunjukkan bahwa subjek asimtomatis memiliki tingkat gangguan NP dua kali lipat dibandingkan dengan subyek kontrol seronegatif beresiko (35.3% vs 17.0%), dan tingkat gangguan meningkat seiring dengan berlanjutnya penyakit (55.8% bagi individu dengan infeksi minor, atau tahap Center for Disease Control [CDC] B; 58.1% untuk individu dengan infeksi oportunistik (AIDS). Diantara individu yang diklasifikasikan memiliki gangguan NP, domain yang paling sering terpengaruh adalah atensi dan kecepatan pengolahan informasi, belajar, kemampuan verbal (terutama kelancaran), dan fungsi motorik.

Tidak ada temuan laboratorium yang spesifik untuk gangguan NP dan MCMD. Hitung limfosit CD4+ hanya memiliki hubungan yang sangat lemah dengan disfungsi kognitif, meski kecepatan penurunan CD4 mungkin berhubungan dengan perburukan NP. Indikator imunologi lain (seperti mikroglobulin beta-2 serum) juga hanya memiliki korelasi yang lemah dengan kemampuan NP. Fungsi NP juga tampaknya tidak berhubungan dengan erat dengan jumlah virus (RNA HIV) di dalam darah. Tetapi, pada seseorang dengan AIDS, viral load yang lebih tinggi di dalam cairan serebrospinal berhubungan dengan kecenderungan yang lebih besar terhadap abnormalitas NP, meski hubungan ini sepertinya tidak berlaku pada seseorang yang tidak immunocompromise secara signifikan (yaitu yang memiliki hitung CD4 lebih dari 200).

Penelitian yang dilakukan Moreno, et al, 2007 terhadap 64 orang penderita HIV di Barcelona Spanyol, justru memperoleh hasil yang berbeda. Pada penelitian ini memperoleh angka prevalensi gangguan kognitif yang meliputi fungsi atensi/memori, kecepatan memproses informasi, memori verbal, fungsi belajar, fungsi eksekutif, kelancaran verbal dan fungsi motorik pada penderita HIV dengan angka CD4 limfosit ≤ 200 sel/mm3 sebesar 75% sedangkan > 200 sel/mm3 sebanyak 50%. Sedangkan angka prevalensi di Indonesia sampai saat ini belum ditemukan.
Pemeriksaan dengan MRI dengan resolusi tinggi, pada penderita AIDS terjadi penipisan kortek sensoris primer, motoris dan premotor sebesar 15%. Penipisan frontopolar dan kortek bahasa berhubungan dengan perburukan sistem imun yang dapat dinilai melalui kadar CD4 limfosit darah. Kehilangan jaringan prefrontal dan parietal berkaitan dengan defisit kognitif/motorik. Hasil MRI menunjukkan bahwa HIV secara selektif merusak kortek otak.
Pengenalan highly active antiretroviral therapy (HAART) telah meningkatkan harapan hidup orang yang terinfeksi dengan HIV-1 dan menghasilkan setidaknya penurunan sementara insidensi HAD hingga serendah-rendahnya 10.5%. Efek yang sementara ini menunjukkan titik dimana efek infeksi HIV-1 dalam otak seharusnya selalu dipertimbangkan bersama dengan kondisi sistemik dan kini telah dimengerti secara luas bahwa sebuah infeksi perifer dan respon imun dan proses inflamatorik yang berhubungan mampu mempengaruhi semua tipe sel di dalam CNS. Memang, perbaikan pengendalian replikasi virus perifer dan treatment infeksi oportunistik terus memperpanjang waktu survival, tetapi HAART gagal untuk memberikan perlindungan dari MCMD atau HAD, atau untuk membalikkan penyakit pada sebagian besar kasus. Meski MCMD mungkin lebih banyak daripada frank dementia dalam era HAART, HAD menyusun sebuah faktor risiko signifikan yang independen untuk kematian karena AIDS diasumsikan menjadi penyebab demensia yang paling sering diantara usia 40 tahun atau kurang. Terlebih lagi, proporsi kasus baru HAD yang menunjukkan hitung sel T CD4 lebih besar dari 200 µl-1 terus bertambah dan sebuah penelitian baru lainnya menemukan bahwa dalam sebuah kelompok yang terdiri dari 669 pasien HIV yang meninggal antara 1996 dan 2001 lebih dari 90% diantaranya telah didiagnosis dengan HAD sebagai kondisi yang menegaskan AIDS (AIDS-defining condition) dalam 12 bulan terakhir kehidupan. Situasi ini mungkin setidaknya sebagian disebabkan karena penetrasi ihibisi protease HIV yang buruk ke dalam CNS dan beberapa analog nukleotida, dan pola resistensi virus yang berbeda dalam kompartemen plasma dan cairan serebrospinal (CSF) juga telah teramati.
Sebuah penelitian yang melibatkan 1.604 penderita laki-laki dengan seropositif HIV tanpa gejala AIDS selama 10 tahun diamati kadar plasma HIV RNA, beta-2 mikroglobulin, CD4 dan kadar hemoglobin diperoleh kesimpulan bahwa kadar plasma HIV RNA dan angka CD4 yang dinilai sebelum pemberian anti retrovirus dapat memprediksi terjadinya HIV associated dementia (HAD) dan neuropati sensoris.
HIV sepertinya melakukan penetrasi ke dalam sistem saraf pusat (SSP) dengan cepat setelah infeksi perifer, dan kemudian menetap secara primer di dalam makrofag perivaskuler dan mikroglia, panduan terapetik saat ini untuk AIDS mengusulkan untuk memulai HAART ketika jumlah sel T CD4+ mulai menurun. Karena hal ini mungkin akan terjadi dalam beberapa tahun setelah infeksi perifer, HAART sepertinya tidak akan mencegah masuknya HIV-1 ke dalam SSP. Akibatnya, seiring orang hidup lebih lama dengan HIV-1 dan AIDS prevalensi demensia mungkin akan meningkat dan dalam tahun-tahun terakhir insidensi HAD sebagai penyakit yang menegaskan AIDS sebenarnya meningkat.

Dengan demikian, perlu diketahui penanda baik secara klinis maupun laboratorium yang berkaitan dengan perburukan komplikasi terutama komplikasi neurokognitif pada penderita HIV sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan yang tepat dan efisiensi.

REFERENSI

1. Cunningham, P.H., Smith, D.G., Satchell, C., Cooper, D.A. and Brew, B., 2000. Evidence for independent development of resistance to HIV-1 reverse transcriptase inhibitors in the cerebrospinal fluid. AIDS ,14. p. 1949.

2. Grant, I,. Sacktor, N,. McArthur, J,. 2005. HIV neurocognitive disorders. The Neurology of AIDS. 2ed. Oxford University Press, pp. 357-70.

3. Gartner, S., 2000, HIV infection and dementia. Science. 287, p. 602.

4. Gibbie T, Mijch A, Ellen S, Hoy J, Hutchison, C, Wright E, Chua5, Judd F, 2006. Depression and neurocognitive performance in individuals with HIV/AIDS: 2-year follow-up. British HIV Association HIV Medicine. 7, pp. 112–121

5. Giesen, H.J., Haslinger, B.A., Rohe, S., Kooler, H., Arendt, G., 2005. HIV Dementia Scale and Psycomotor Slowing- The Best Methods in screening for Neuro-AIDS. J Neuropsy Clin Neurosci 17:2. pp. 185-91.

6. Gonzalez-Scarano, F. and Martin-Garcia, J., 2005, The neuropathogenesis of AIDS. Nat. Rev. Immunol. 5, p. 69.

7. Jones, G. and Power, C., 2006, Regulation of neural cell survival by HIV-1 infection. Neurobiol. Dis. 21: 1.

8. Kaul, Markus, Garden, Gwen A., Lipton, Stuart A, 2001. Pathways to neural injury and apoptosis in HIV-associated dementia. Nature, volume 410(6831), April 19, pp. 988-994.

9. Kaul, M., Zheng, J., Okamoto, S., Gendelman, H.E. and Lipton, S.A., 2005, HIV-1 infection and AIDS: consequences for the central nervous system. Cell Death Differ. 12 suppl. 1: 878.

10. Kramer-Hammerle, S., Rothenaigner, I., Wolff, H., Bell, J.E. and Brack-Werner, R., 2005, Cells of the central nervous system as targets and reservoirs of the human immunodeficiency virus. Virus Res. 111: 194.

11. McArthur, J.C., Haughey, N., Gartner, S., Conant, K., Pardo, C., Nath, A. and Sacktor, N., 2003, Human immunodeficiency virus-associated dementia: an evolving disease. J. Neurovirol. 9: 205.

12. Moreno, J.A., Fumaz, C.R., Prats, A., Ferrer, M.J., Negredo, E., Garolera, M., Clotet, B., 2007. Recommended Earlier Initiation of Antiretroviral Therapy Based on Nadir CD4 Cell Count as a Risk Factor for HIV-related Neurocognitive Impairment. Germans Trias. Pujol University Hospital Badalona, Barcelona, Catalonia, Spain.

13. National Colaborating Centre for Mental Health, 2007. Dementia. The British Psycological Society and Gaskell, pp. 134-143.

14. National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI), 2003. Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7).

15. Sharon M, 2003. Depression and HIV Disease. Journal of The Association of Nurses In Aids Care, Vol. 14, No. 2, pp. 41-51.

16. Sugianto P, 2008. Diagnosis dan Tata Laksana Infeksi Oportunistik HIV pada Sistem Saraf Pusat. Makalah Lengkap Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu Penyakit Saraf. Ed : Machhfoed H, Susilo H, Suharjanti S. Airlangga University Press. Surabaya. h. 351-64.

17. Thompson, P.M., Dutton, R.A., Hayashi, K.M., Toga, A.W., Lopez, O.L. Aizenstein, H.J., Becker, J.T., 2005. Thinning of the cerebral cortex visualized in HIV_AIDS reflects CD4 T lymphocyte decline. PNAS . 102; 43. pp. 15647–15652.

18. UNAIDS, 2000. AIDS Epidemic : update, December 2000. Geneva : Joint United Nations Programme on HIV/AIDS.

19. Welch, K. and Morse, A., 2002. The clinical profile of end-stage AIDS in the era of highly active antiretroviral therapy. AIDS Patient. Care STDS. 16: 75.

20. Wachtman LM, 2007. Platelet decline. An avenue for investigation into the pathogenesis of human immunodeficiency virus-associated dementia. Arch Neurol. 64 (9). pp. 1264-72

21. White, D.A., Heaton, R.K., & Monsch, A.U. (1995). Neuropsychological studies of asymptomatic Human Immunodeficiency Virus-Type 1-infected individuals. Journal of the International Neuropsychological Society, 1, pp. 304–15.

Advertisements

2 Comments

Filed under Artikel Imiah

2 responses to “KOMPLIKASI NEUROKOGNITIF INFEKSI HIV

  1. buccinator

    akhirnya ada juga artikel ilmiah yang masuk.lengkap sudah blog ini bisa berkontribusi.semoga diikuti yang lain.pendek juga tidak apa-apa.tips dan info terbaru juga bisa.ayo, silakan. (okanegara)

  2. Pingback: Blogger Indonesia Peduli HIV-AIDS (BIPHA) | Deddy Andaka 's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s