Masih banyak Warga Bucci yang belum juga mampir ke blog ini untuk sekedar berkabar. Dari awal blog ini memang dibuat untuk bisa memberi kabar terbaru Warga Bucci, berbagi pengalaman, hingga diseminasi informasi kedokteran dan kesehatan. Karena masih tahap sosialisasi tentu saja kabar apapun yang terkini tentang Warga Bucci akan sangat diharapkan. Dimana saja dan apa saja aktivitasnya saat ini. Besar harapan topik kesehatan juga akan ramai menyusul. Ini bukan masalah kisah sukses atau tidak sukses, karena sekecil apapun tiap orang pasti punya kisah sukses. Ini juga bukan tentang berhasil atau tidak berhasil. Tetapi semuanya tentang berbagi informasi. Kita semua tentu senang bila Warga Bucci bisa memberi arti dalam kehidupan ini. Apapun itu, walau kisah-kisah itu bukanlah melulu di meja ruang praktek saat membawa stetoskop. Di sanalah uniknya kehidupan ini. Dan dalam dua hari ini ada tiga cerita tentang Warga Bucci yang kembali dikabarkan.
Pertama, dua hari lalu, teman kita yang cantik, dr. Fransisca Nathasa, menelpon dan bertanya tentang ketertarikannya dan keinginan untuk mencari tahu lebih dalam tentang ilmu anti aging medicine yang kini semakin populer, sekalian menyampaikan informasi bahwa beliau kini berpraktek di rumah, di Jalan Bhinneka Jati Jaya, Kuta. Ada yang menarik dalam langkah yang diambil oleh dr. Nathasa, di mana beliau dan keluarga masih sangat aktif dalam kegiatan-kegiatan pengabdian di gereja dan pendampingan anak muda di wilayah Tuban, Kuta. Sehingga ini membuatnya bergerak untuk juga membuat kegiatan bakti sosial yang digerakkan oleh anak-anak muda. Tanggal 6 Desember nanti di Karangasem. Agenda bakti sosial ini juga akan dilengkapi dengan pelayanan kesehatan untuk masyarakat. Jadi, bila ada teman sejawat yang bisa meluangkan waktu dan berkenan untuk berpartisipasi buat kemanusiaan, silakan bisa kontak beliau untuk ikut agenda ini.
Yang kedua, adalah kabar baik dari dr. Putra Wibawa. Di sela-sela kesibukannya mesti membagi waktu antara pekerjaan di RS Sanglah dan menyelesaikan tesis Magister Kenotariatannya, beliau masih sempat menyibukkan diri membuka salah satu bisnis barunya. Kemarin beliau menelpon untuk bisa sekedar datang ke warungnya di Renon. Lebih tepat kafe bila dilihat dari tampilannya. Karena ada waktu, saya sempatkan datang bersama beberapa teman blogger kuliner yang biasa menulis tentang makanan atau tempat nongkrong baru. Kafe eksklusif yang diberi nama “Bajra`s Waroeng” yang berlokasi persis di seberang selatan Monumen Bajra Sandhi Renon terlihat nyaman dan menyenangkan. Nasi Goreng Bajra`s nya yang saya coba sangat lezat. Free appetizernya juga menggoda. Apalagi saya juga mencoba Lemon Squashnya yang segar. Hidangan western lainnya menjadi nuansa utama tempat ini. Silakan datang ke tempat ini karena pelayanannya ramah dan mumpung dikasi diskon besar. Tempat ini bisa jadi alternatif lain buat Warga Bucci nongkrong, selain Warung Rani milik dr. Asih Primatanti dan Warung Be Pasihnya dr. Sri Widnyani.
Kisah terakhir terjadi baru saja. Pagi tadi. Seseorang yang selama ini hanya terdengar kabarnya saja akhirnya bisa ketemu hari ini. Selama ini saya hanya dapat kabar dari isterinya (yang mengambil studi pascasarjana kedokteran reproduksi). Beliau adalah sang Kardiolog pertama dari Warga Bucci, dr. Bagus Ari PDS, SpJP, yang sudah kembali bertugas di RS Sanglah. Selepas kongres internasional kardiologi di Vietnam, beliau kembali bertugas dengan posisi utama di Poliklinik Kardiologi. Wajah gembira terlintas di air mukanya. Hari ini beliau semestinya memberikan kuliah untuk mahasiswa menggantikan seniornya dr. Bajranadha,SpjP. Tetapi rupanya ada miskomunikasi dengan pemberi jadualnya. Tetapi tidak apa, karena kejadian itu akhirnya kita malah bisa ketemu dan tahu kabar tearkhir dari beliau, Gus Arik. Sebuah permasalahan klasik sempat diungkap sebagai sebuah hambatan dan tantangan dokter-dokter muda sekarang. Dan ini bisa terjadi dengan siapa saja yang akan memasuki tembok-tembok birokrasi dan tradisi kampus dan klinik. Permasalahan senioritas yang kembali disebut-sebut. Ini akan menjadi penghalang yang junior mengalami keterlambatan untuk berinisiatif dan berkembang. Bersyukurlah yang tidak mengalaminya. Artinya, jadi spesialispun tidak selalu berarti sebuah kabar beruntung. Semoga saja Warga Buccinator malah bisa menjadi agen perubahan mitos dan praktek-praktek senioritas dengan paradigma lama yang selalu tidak jelas membagi pekerjaan dengan junior dan cenderung disadari ataupun tidak malah menghambat perkembangannya. Semoga ini tidak dilakukan Warga Bucci di bagian atau posisinya. Di manapun.